Peristiwa Pasuruan
September 20, 2008
PASURUAN: Maksud hati hendak beramal, justru tragedi dan musibah yang didapat. Itulah yang terjadi pada pembagian zakat yang dilakukan keluarga dermawan H Syaichoni, di Jalan Dr Wahidin Sudirohusodo, Kota Pasuruan, Jawa Timur, kemarin.
Pada acara itu 21 orang tewas. Korban yang seluruhnya wanita berusia 25 tahun ke atas itu tewas akibat terinjak-injak dalam antrean ribuan masyarakat miskin yang berharap dapat sedekah dari keluarga Syaichoni.
Pembagian zakat dengan nilai nominal Rp30 ribu/orang yang baru berlangsung sekitar seperempat jam itu pun akhirnya dihentikan. Tidak ada petugas keamanan yang ikut membantu mengamankan ribuan calon penerima zakat itu.
Peristiwa tragis terjadi saat pembagian zakat dimulai pukul 10.00 WIB. Ribuan warga miskin yang datang dari berbagai pelosok desa di sekitar Kota dan Kabupaten Pasuruan, saling berdesakan menuju satu pintu. Mereka sudah tiba di tempat sejak pukul 06.00 WIB.
Akibatnya, ribuan orang yang terkonsentrasi di sebuah gang itu pun tak bisa bergerak. Bahkan, meski sejak awal sudah ada orang yang pingsan pun tidak bisa dikeluarkan dari kerumunan massa.
Begitu juga saat terjadi gerakan yang mengakibatkan beberapa diantaranya terjatuh, seketika terinjak oleh pengantre lainnya.
Sedang mereka yang berada di tempat kejadian perkara (TKP) sudah sulit menarik diri. Tak pelak, sebagian dari mereka yang berada di bawah itu pun kehabisan napas, dan akhirnya meninggal dunia. Suasana pun kian panik tak terkendali.
Bukan kali pertama
Keributan pembagian zakat keluarga Syaichoni itu sebenarnya bukan kali pertama. Bahkan, setiap pembagian zakat pada 15 Ramadan itu selalu menimbulkan masalah, misalnya puluhan orang pingsan. Namun kali ini hingga menelan korban jiwa.
Kejadian tragis itu berulang karena keluarga pemberi zakat kurang siap mengatur ribuan orang yang saling berdesakan. Sementara tenaga pembagi zakat hanya dilakukan dan diatur sejumlah orang dari pihak keluarga saja.
Padahal pada setiap pembagaian zakat, ribuan orang fakir miskin yang umumnya perempuan, datang dari berbagai pelosok desa di sekitar Kota dan Kabupaten Pasuruan.
Mulai sekitar pukul 06.00 WIB ribuan warga miskin sudah berdatangan dan langsung mengantre. Sementara pembagian zakat baru dimulai pukul 10.00 WIB.
Warga takut datang terlambat karena setelah pukul 10.00 WIB pintu ditutup. Bahkan, sekitar lokasi terdapat poster yang memberitahukan bahwa pembagian zakat dimulai pukul 09.30 WIB sampai pukul 12.00 WIB. Mereka yang datang di luar itu tidak dilayani.
Ribuan warga calon penerima zakat mulai pagi masuk ke gang sekitar rumah. Mereka ditampung dalam gang jalan yang ditutup pagar dan beratap terpal.
Pembagian zakat belum dimulai puluhan warga telah jatuh pingsan. Namun, keluarga Syaichoni belum membagikan zakatnya sebelum pukul 10.00 WIB tepat.
Tidak ada aparat keamanan, baik dari pemkot maupun polisi setempat, karena kegiatan yang rutin dilakukan setiap 15 Ramadan itu tidak dilaporkan alias tanpa pemberitahuan kepada aparat kepolisian.
Kaget
Wali Kota Pasuruan, Aminurrokhman, siang kemarin, langsung mengunjungi korban di RSUD dr Sudarsono. Dia menyatakan prihatin dengan peristiwa itu, dan sangat menyayangkan penyelenggara yang tidak berkoordinasi dengan pemkot maupun aparat keamanan.
“Tujuannya mulia dan bagus, membagikan zakat bagi kaum duafa. Namun caranya yang salah, sehingga menimbulkan korban jiwa,” katanya lirih.
Sementara itu Syaichoni langsung dimintai keterangan di Mapolresta Pasuruan.
Kapolresta AKBP Harry Sitompul, pada jumpa pers di ruang pertemuan RSD dr Soedarsono, kemarin sore, mengatakan, jumlah korban tewas sebanyak 21 orang, dan luka-luka 10 orang.
Korban tewas kini masih berada di kamar mayat untuk diidentifikasi dan divisum untuk mengetahui penyebab kematian. Sementara korban luka masih dirawat intensif di ruang rawat gawat darurat.
Kapolresta menyebutkan, para korban kebanyakan tidak membawa kartu identitas diri. Namun, para korban telah banyak dikenali keluarganya, melalui foto yang dipasang di depan kamar mayat.
Para korban yang semuanya wanita, berusianya berkisar antara 25 tahun hingga 50 tahun. Kapolres menyatakan, untuk mengetahui penyebab kematian para korban tewas akan dilakukan visum.
Kapolresta belum menegaskan penyebab korban tewas. Namun untuk mengungkap penyebab kematian, mayat korban akan divisum terlebih dahulu.
Kapolresta mengatakan, kegiatan pembagian zakat yang dilakukan keluarga Syaichon tidak memberi tahu pihak-pihak terkait, mulai dari RT/RW setempat maupun kepada pihak keamanan.
Harry mengaku mendapat laporan kejadian sekitar pukul 10.15 WIB. Sekitar 45 menit kemudian, tepatnya pukul 11.00 WIB personel polisi sebanyak dua SST (60 personel) datang menghentikan kegiatan dan langsung mengevakuasi korban.
Sebelumnya, pada saat kejadian, tidak ada satu pun polisi di TKP. Bahkan, evakuasi kali pertama terhadap para korban dilakukan para wartawan yang sedang meliput kegiatan itu sejak pagi.
Peristiwa itu terjadi sekitar pukul 10.15 WIB, atau sekitar seperempat jam setelah acara pembagian dimulai. Ribuan warga yang datang sejak pagi ditampung dalam sebuah gang yang dipagari. Tak pelak, mereka yang terlanjur masuk tidak bisa keluar lagi.
Meski sejumlah orang telah pingsan, pengantre lain tidak bisa membawa mereka dari lokasi itu karena gang ditutup setelah pukul 10.00 WIB.
Para calon penerima zakat datang dari berbagai pelosok desa dari wilayah Kota dan Kabupaten Pasuruan. Mereka datang sejak pagi, tetapi pembagian baru dimulai pukul 10.00 WIB.
Tragedi terjadi saat sekitar seperempat jam pembagian dimulai, satu per satu warga yang berdesakan masuk ke halaman masjid. Sementara ribuan warga yang berada di gang bergerak dari tiga arah, timur, barat, dan utara menuju satu pintu yang dibuka hanya selebar satu orang.
Saat terjadi desak-desakan, sejumlah warga terjengkang jatuh dan terinjak-injak. Sementara arus desakan dari arah timur dan barat terus merangsek ke arah pintu. Tak pelak, warga yang terjatuh dan tertumpuk tidak bisa begerak.
Akibatnya, korban yang semula masih hidup satu per satu menghembuskan napas terakhir dalam posisi terjepit, tanpa ada pertolongan. Evakuasi besar-besaran baru bisa dilakukan setelah para petugas datang.
Kapolresta mengemukakan, Syaichon bersama tiga saudaranya sedang dimintai keterangan di Mapolresta Pasuruan sebagai saksi.
Namun, kata dia, tidak menutup kemungkinan yang bersangkutan menjadi tersangka jika dalam pemeriksaan nanti diduga kuat melakukan kelalaian sehingga mengakibatkan orang lain meninggal dunia.
Santuni
Wali Kota Pasuruan, Aminurrokhman, dan Bupati Pasuruan, Dade Angga, saat jumpa pers bersama kapolres setempat berjanji memberi santunan kepada keluarga korban yang tewas dan mereka yang menderita luka-luka.
Aminurrokhman menyebutkan, keluarga korban yang meninggal akan diberi santunan sebesar Rp1 juta, sedangkan bagi korban yang sakit akan ditanggung biaya pengobatannya sampai sembuh.
Bupati Pasuruan Dade Angga juga mengatakan hal sama. “Keluarga korban yang meninggal akan mendapat santun sebesar Rp1 juta plus biaya ambulans maupun biaya penguburannya,” katanya.
Karena pengobatan bagi yang luka dilakukan di rumah sakit Kota Pasuruan, baik yang berasal dari kabupaten maupun kota, akan ditanggung Pemerintah Kota Pasuruan.
Kepala Kepolisian Wilayah (Kapolwil) Malang, Kombes Pol Rusli Nasution begitu mengetahui peristiwa itu, langsung memerintahkan pembagian zakat oleh keluarga dermawan Syaichoni Kota Pasuruan dihentikan.
“Itu harus dihentikan. Saya sedang koordinasikan soal itu dengan aparat kepolisian setempat. Itu nggak boleh diteruskan,” katanya.
Institusi zakat
Secara terpisah, pengamat sosial M Ali Haidar menilai, musibah mengenaskan itu menunjukkan ketidakpercayaan orang yang berzakat kepada institusi yang menangani zakat. Padahal, ada beberapa yayasan yang telah melakukan dengan baik, seperti YDSF, Rumah Zakat, BAZ, dan sebagainya.
“Ketidakpercayaan itu mendorong orang yang berzakat langsung membagikan sendiri zakatnya,” kata Guru Besar Universitas Negeri Surabaya (Unesa) itu.
Namun, kata dosen Fakultas Ilmu Sosial (FIS) Unesa yang juga pengamat pendidikan pesantren itu, orang yang berniat membagikan zakat itu tidak bersikap arogan.
“Kalau memang jumlahnya besar, dia seharusnya melakukan survei, siapa yang perlu diberi zakat itu didatangi, bukan justru didatangkan,” katanya.
Dengan survei itu, kata dia, pembagi zakat juga bisa membagikan zakatnya dalam bentuk modal kerja, bantuan biaya pendidikan, dan bentuk lainnya yang sifatnya berkelanjutan dan lebih bermanfaat.
Belasungkawa
Sementara dari Jakarta dilaporkan, Pemerintah menyampaikan belasungkawa atas peristiwa yang terjadi di Pasuruan itu.
Pernyataan itu disampaikan Menteri Agama M Maftuh Basyuni, dari Jakarta. Menurut dia, sebenarnya kejadian ini tak perlu terjadi kalau Syaichoni mau menyerahkan zakatnya kepada amil zakat yang sudah ada, misalnya Bazda atau amil zakat lain.
“Sungguh sangat disayangkan kejadian ini terjadi pada saat-saat kita menjalankan ibadah puasa, karena itu pemerintah simpati kepada keluarga yang telah meninggal kita, para korban. Mudah-mudahan Allah SWT, memberikan kepada tempat yang sebaik-baiknya pada mereka,” kata Menag kepada wartawan, di Kantor Departemen Agama, Jakarta, kemarin.
Peristiwa itu, lanjut Menag, diakibatkan karena kurang percayanya masyarakat terhadap lembaga amil zakat, disamping banyaknya keinginan dari muzzaki (pemberi zakat) untuk memberikan zakat secara langsung kepada yang berhak.
“Karena itulah hari ini ke depan, kami sudah memerintahkan kepada Kakanwil untuk bisa mensosialisasikan itu, disamping kita dapat membuktikan kepada amil zakat itu untuk membuktikan bahwa dirinya dapat dipercaya,” ujarnya.
Terkait dengan kepercayaan masyarakat terhadap lembaga amil zakat, Menag mengakui, memang bukan hal yang dapat dipaksakan. Namun, lembaga amil zakat perlu melakukan introskpeksi diri, untuk menunjukkan bahwa pihaknya dapat mengelola zakat secara transparan dan profesional.
“Oleh karena itu kita sedang mengupayakan supaya zakat ini dapat dikoordinasikan sebaik-baiknya. Organisasi masih banyak seliweran gak karu-karuan, mudah-mudahan kejadian ini memacu kita kearah yang lebih baik,” ungkapnya.
Menag menyarankan, kepada pemberi zakat (muzzaki) secara langsung agar dapat membagikan zakatnya dengan tertib menggunakan kupon-kupon yang diberikan kepada mustahik yang ditunjuk, dan koordinasikan dengan aparat keamanan terkait.
Korban meninggal antre pembagian zakat
di Pasuran, Jawa Timur
1. Suliatin warga Kelurahan Kepel
2. Ngatemi warga Gadingrejo
3. Waginah warga Jalan Imam Bonjol
4. Farida warga Tambaan
5. Yanti warga Kebonjaya
6. Saminah warga Kepel
7. Salamah warga Tambaan
8. Chotimah warga Jalan Hang Tuah
9. Satuk warga Ngemplakrejo
10. Asiah warga Gadingrejo
11. Nikmah warga Jalan Halmahera
12. Bu Sumiran warga Ngemplakrejo
13. Suhanik warga Tamanan
14. Sunarsih warga Krapyakrejo
15. Nafiah warga Gadingrejo
16. Chotjah warga Desa Pasrepan
17. Samiatu warga Desa Patuguran Rejoso
18. Aminah warga Wonojati Gondangwetan
19. Safaat warga Wonojati Gondangwetan
20. Siti Khotijah warga Rejosokidul
21. Tumiati warga Tosari
Korban luka:
1. Liana warga Kelurahan Sekargadung
2. Asmani warga Gadingrejo
3. Sukarni warga Purutrejo
4. Waginah warga Imam Bonjol
5. Lusiana warga Mandaranrejo
6. Ayumi alamat belum jelas
7. Amsani alamat belum jelas
8. Maria Ulfah warga Jogorepuh Pasrepan
9. Mbok Su warga Pasrepan
10. Lina warga Pengkol Gondangwetan
Kronologis insiden pembagian zakat
di Pasuruan, 15 September 2008
Pukul
06.00 WIB : Masyarakat sudah mulai berdatangan
09.00 WIB : Lokasi semakin dipadati calon penerima zakat
09.30 WIB : Beberapa warga mulai ada yang pingsan tapi sulit dikeluarkan
10.00 WIB : Pembagian zakat dimulai, gerakan massa semakin terasa, himpit-himpitan tak terelakkan, yang terjatuh langsung diinjak-injak
10.15 WIB : Suasana kian crowded dan tak terkendali, beberapa diantara warga berinisiatif menelepon polisi
11.00 WIB : Dua SST (60 personel) dari Polresta Pasuruan datang dan langsung menghentikan kegiatan serta mengkondisikan korban meninggal dan luka-luka ke RS dr Seodarsono Pasuruan
