Pantai Tanjung Lesung

September 26, 2008

Berlokasi di Desa Tanjung Jaya, Kecamatan Panimbang, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten, kawasan wisata terpadu Tanjung Lesung dapat ditempuh dalam waktu antara 2,5 jam hingga 3 jam dari Jakarta melalui Jalan Tol Jakarta-Merak dengan jarak tempuh sekitar 160 kilometer.

Anda dapat mengambil Jalan Tol Jakarta-Merak, lalu keluar di gerbang Tol Serang Timur, dan melanjutkan perjalanan melalui Kota Serang, masuk jalan raya ke arah Kota Pandeglang dan Labuan, sampai akhirnya menuju kawasan wisata Tanjung Lesung.

Ini merupakan alternatif pertama menuju Tanjung Lesung. Ada alternatif kedua, lewat Jalan Tol Jakarta-Merak, keluar di gerbang Tol Cilegon, lalu menyusuri pesisir Anyer-Carita, melanjutkan ke Labuan dan akhirnya masuk Tanjung Lesung. Sementara bagi mereka yang datang dari Bogor, lokasi wisata ini bisa ditempuh lewat Rangkasbitung, Pandeglang, Labuan. Bagi mereka yang datang dari laut, bisa naik kapal dari Pelabuhan Tanjung Priok di Jakarta Utara menuju arah barat, menyusuri pantai barat Pulau Jawa di tepi Selat Sunda.

Jalan ke Tanjung Lesung yang sebelumnya masih rusak dan berlubang, sejak tahun 2003 sudah mulai mulus, sehingga kian memudahkan wisatawan Nusantara dan wisatawan mancanegara datang ke tempat nan indah ini.

Sebelumnya ada keluhan, akses ke Tanjung Lesung terhambat karena tiga jembatan yang rusak. Jembatan tersebut adalah jembatan di persimpangan Labuan-Citeureup yang melintasi Sungai Cibungur, jembatan yang melintasi Sungai Ciliman di Kecamatan Panimbang, dan jembatan di Sungai Ciheru. Ketiga jembatan itu awalnya hanya bisa dilalui oleh satu kendaraan sehingga mengganggu kenyamanan perjalanan.

“Namun, sejak tahun 2003 ini akses ke Tanjung Lesung makin mudah dan cepat setelah ketiga jembatan itu diperbaiki dan jalan diaspal mulus,” kata Direktur PT Banten West Java (BWJ) Tourism Development Corporation (TDC) Purnomo S Prasetyo kepada Kompas, di Tanjung Lesung.

Selain itu, kata Purnomo, akses komunikasi kian dipermudah setelah pada pertengahan Juni 2003 jaringan fiber optik masuk ke kawasan Tanjung Lesung. Akses Internet pun makin gampang dilakukan

MEREKA yang baru pertama kali ke Tanjung Lesung dan menggunakan kendaraan pribadi, tak perlu bingung. Jika mengambil jalan keluar gerbang Tol Serang Timur, ikuti petunjuk arah ke Pandeglang- Labuan-Tanjung Lesung.

Jika ingin menginap di Tanjung Lesung, sebaiknya buat reservasi dahulu. Di kawasan wisata Tanjung Lesung seluas 1.500 hektar itu, yang baru terbangun sekitar 200 hektar, terdiri dari hotel resor pantai (Tanjung Lesung Beach Club/TLBC) dan klub layar (Tanjung Lesung Sailing Club/TLSC) berikut fasilitas dan prasarana jalan.

Harga sewa cottage tergantung jumlah kamar yang ada dalam cottage tersebut, harganya antara Rp 1,3 juta (satu kamar untuk dua orang) dan Rp 4,6 juta (empat kamar untuk tujuh orang) per malam.

Sebaliknya, jika Anda anggota klub layar dan lebih menyukai cottage yang alami, Anda bisa menginap di tempat itu dengan harga antara Rp 200.000 dan Rp 300.000 per malam, tergantung hari biasa atau akhir pekan.

Penggemar klub layar juga bisa menyewa kapal dengan harga antara Rp 45.000 per jam (jenis Optimist) dan Rp 100.000 per jam (jenis Laser).

“Ini merupakan tempat yang menyenangkan bagi ekspatriat yang tinggal di Jakarta dan memiliki hobi layar,” kata Jasper Bouman, Manajer Tanjung Lesung Sailing Club. Di sini sudah beberapa kali diadakan pertandingan layar internasional.

Nah, jika Anda menginap di hotel resor Tanjung Lesung, Anda dapat menikmati aneka olahraga dan rekreasi di air mulai dari jetski, banana boat, glass bottom boat, snorkeling, fishing at jetty, dan sea kayak dengan menyewa alat-alatnya. Pengunjung juga bisa melakukan jelajah laut dengan mengikuti Krakatau Trip selama enam jam seharga Rp 500.000++, Ujung Kulon Trip selama delapan jam seharga Rp 625.000++, maupun sunset boat trip selama 40 menit seharga Rp 65.000++. Bagi yang suka aktivitas di darat, pengelola resor ini menyediakan sepeda gunung, hiking, dan voli pantai di kawasan wisata tersebut.

Setiap Sabtu malam, mereka yang menginap di resor ini dapat menikmati barbekyu hidangan laut yang segar di restoran tepi pantai yang romantik. “Suasana romantis di tempat ini membuat agen-agen perjalanan luar negeri, terutama dari Korea Selatan, tertarik membuat paket bulan madu (honeymoon package).

KONSORSIUM PT Batavia West Java ketika membangun kawasan wisata terpadu Tanjung Lesung memiliki konsep menyediakan lahan bagi investor yang akan menanamkan investasi di bidang pariwisata. Masih banyak lahan yang bisa dibangun untuk investasi hotel, marina, dan lapangan golf.

Konsorsium ini terdiri dari sembilan perusahaan yang mengembangkan kawasan industri Jababeka. Awalnya, ada pemikiran, mengapa tidak membangun industri wisata di Banten, karena yang ada selama ini hanya pabrik-pabrik. Karena itulah, konsorsium ini berniat mengembangkan wisata bahari dan wisata agro di lokasi yang indah ini.

“Sejak awal kami sudah memberitahu kepada masyarakat setempat bahwa pasti ada yang dirugikan dengan pembersihan lahan dan pembangunan tempat wisata ini. Tetapi, kami meyakinkan mereka bahwa kelak mereka dan anak-cucunya yang akan menikmati, karena natura tidak dapat diukur dengan uang,” kata Purnomo.

Tempat wisata Tanjung Lesung dibuka resmi Januari 1998. “Pada awal terjadi krisis ekonomi, di mana nilai rupiah rontok oleh kekuatan mata uang asing, tingkat hunian di sini justru bagus. Orang asing yang datang ke Tanjung Lesung menganggap harga sewa kamar relatif murah,” jelasnya. Delapan puluh persen tamu Tanjung Lesung adalah orang asing.

Namun, ketika terjadi Kerusuhan Mei 1998, banyak orang asing yang meninggalkan Indonesia. Tak berapa lama, kondisi berangsur-angsur normal. Namun, pariwisata Indonesia kembali babak belur ketika terjadi peledakan bom Bali, Oktober 2002.

“Hingga sekarang belum pulih, apalagi ketika terjadi isu SARS. Tetapi, kami masih beruntung, tertolong oleh liburan sekolah Juni-Juli,” kata Purnomo.

Selain membuka paket bulan madu untuk pasangan Korea Selatan yang dimulai Januari 2002, pengelola resor ini juga membuka paket khusus bagi turis lanjut usia (lansia) asal Jerman. Sejak dibuka April 2002, paket ini sebetulnya banyak peminatnya. Namun, setelah terjadi peledakan bom di Bali, paket ini terhenti karena orang asing takut ke Indonesia.

Apakah pengelola resor ini memikirkan menggarap pasar orang-orang Indonesia? “Ya, kami akan menggarap orang- orang Indonesia. Yang jadi masalah, banyak orang Indonesia yang tidak terbiasa mengambil cuti pada hari-hari biasa. Mereka selalu cuti pada akhir pekan,” ujar Purnomo.

Leave a Reply